PDU 4 April 2026
Ayat Bahasan Lukas 21:1-4
Apakah saudara pernah diberi? Apakah saudara pernah memberi? Apa yang dirasakan ketika diberi maupun memberi? Tentu ada rasa bahagia ketika kita diberi maupun memberi. Mari kita lihat jawabannya di Lukas 21:1-4.
Apa yang diperhatikan oleh Yesus? Pemberian dari orang-orang kaya sangatlah banyak, dan pemberian dari sang Janda adalah 2 peser. Nominal 2 peser jika dibandingkan persembahan dari orang-orang kaya sangatlah sedikit bagi ukuran manusia. Namun, Yesus menganggap bahwa 2 peser tersebut lebih banyak daripada persembahan dari orang-orang kaya, sebab 2 peser tersebut datang dari keterbatasan sang Janda. Hebatnya, itu adalah seluruh nafkah sang Janda. Bagi sang Janda, uang 2 peser — harta benda paling berharga yang dia miliki sekarang — sangatlah berharga, sampai-sampai dia memberikan semua miliknya demi kemuliaanNya.
Para janda seharusnya menjadi tanggung jawab para ahli Taurat untuk dilindungi dan diperhatikan. Namun kenyataannya justru terbalik—mereka yang seharusnya menjaga, malah menindas kaum yang lemah. Melihat hal ini, Yesus mengkritik keras tindakan tersebut. Di tengah situasi itu, seorang janda menjadi teladan yang menunjukkan bahwa ketulusan dan keikhlasan dalam memberi—meskipun dari hal yang kita anggap paling berharga—merupakan persembahan yang sejati dan paling berarti di hadapan-Nya.
Apa yang mendasari sang janda untuk memberi bukanlah sekadar kewajiban, melainkan sikap hati yang tulus. Ia digerakkan oleh keikhlasan, ketulusan, serta kepercayaan yang mendalam kepada Tuhan. Dengan penuh kesadaran, ia memilih untuk mendahulukan Tuhan dalam hidupnya, bahkan rela berkorban dari apa yang dimilikinya. Keyakinannya teguh—bahwa segala sesuatu pada akhirnya berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya.
Mengapa banyak orang merasa sulit untuk memberi? Sering kali hal itu berakar pada ketidakrelaan hati dan ego yang masih mendominasi. Karena itu, penting bagi kita untuk senantiasa hidup dengan penuh ucapan syukur. Kita diingatkan bahwa keselamatan hanya datang melalui Tuhan, dan tidak ada seorang pun yang dapat mencapainya tanpa Dia. Kebenaran ini seharusnya menjadi dasar dalam menjalani hidup. Dengan percaya bahwa pemeliharaan Tuhan selalu menyertai kita, keterbatasan pun tidak lagi
